Purple Bow Tie

Selasa, 11 Juni 2013

Arabesque Chapter 3 (End)



Waktu berlalu dengan sangat cepat. Bulan berganti musim. Aku dan Keita menjadi partner yang saling melengkapi. Kami selalu berlatih bersama. Aku menari balet (meskipun kelas tambahan ku tetap kelas vokal), sedangkan ia mengiringi tarianku dengan musik klasiknya. Nyaman. Itu lah kata yang selalu ku ucapkan pada diri sendiri saat berada di sampingnya. Entah apa yang membuat ku bisa senyaman itu bersamanya. Bersama, kami saling menyemangati. Bersama, kami membangun kembali kehidupan baru dengan mimpi yang tergenggam erat di tangan kami, dengan mimpi yang menjadi bagian dari setiap udara yang kami hirup, dengan mimpi yang membayangi setiap gerakan tari ku dan permainan lembut pianonya.
Keita Kiyomizu. Ia dan musiknya adalah pelengkap kehidupan ku. Bersama dengan balet, Keita dan musiknya, aku benar – benar hidup.
Suatu hari ia mengatakan sesuatu yang mencengangkan ku. Dia mengajakku untuk tampil dalam acara perpisahan siswa kelas 3. Aku sedikit ragu, semua orang tua murid kelas 3 pasti akan datang ke acara itu. Bagaimana dengan ayah nya Keita? Seakan dapat menjawab pikiran ku, Keita mengatakan tidak peduli pada apa yang bisa di lakukan ayahnya jika mengetahui ia masih bermain musik. Ia bahkan tidak peduli bahkan jika harus meninggalkan rumah. Mendengar kepercayaan dirinya, aku mengangguk. Menyetujui ajakannya.
Tiba – tiba ia menyodorkan sebuah kotak kepadaku. Aku pun membukanya. Sebuah Point Shoes. Dia bilang aku harus janji agar terus menari dan tidak boleh membiarkan trauma itu datang kembali.  Satu kata yang ia ucapkan saat itu, “Ganbatte ne (semangat ya)!”
◦♫♥♪◦
Kursi penonton hampir terisi penuh. Tangan ku basah oleh keringat saking gugupnya. Sesaat lagi aku dan Keita akan tampil pada acara perpisahan siswa kelas 3 ini.
“Nana – chan, saat musim semi bulan depan nanti, kita hanami (piknik sambil menikmati mekarnya bunga sakura yang indah) ke Ueno Park ya.” ujar Keita mengagetkan ku. Apa yang ia bicarakan? Seharusnya sekarang ia menenangkan ku agar tidak gugup lagi. Kenapa malah membicarakan musim semi? Nama aku dan Keita pun di panggil oleh sang pemandu acara, Keita menuju ke panggung terlebih dahulu dan memainkan piano solo nya untuk beberapa saat. Lalu baru lah aku masuk untuk menari balet.
Permainan musiknya selalu indah. Dari balik panggung, aku mencoba mencari sosok ayah Keita. Tapi aku tidak kenal wajahnya, jadi bagaimana bisa aku menemukannya. Yang ku tahu pasti, ia ada di salah satu dari ratusan penonton ini. aku tidak tahu akan jadi seperti apa responnya. Lalu Keita mengakhiri musik solonya. Kini giliran aku mencuri perhatian penonton.
Dengan gugup aku menuju ke tengah panggung. Sekilas aku menatap Keita. Ia balas menatap ku dengan tatapan yakin sambil tersenyum. Hal itu sudah cukup menjadi keberanianku. Aku mulai menyesuaikan gerakan ku dengan musik yang mengalun. Kaki ku dengan lincah menghentak – hentak di atas lantai. Aku pun mengambil ancang – ancang untuk melakukan Grand Jete (lompatan tinggi dengan kaki terbentang lurus di udara). Aku melangkah dengan kaki kiri, lalu aku menyentakkan kaki kanan ku dengan keras. Aku terbang. Segera saja penonton bertepuk tangan begitu kaki ku dengan mulus menyentuh lantai panggung kembali.
Aku dan Keita mendapat tepuk tangan yang sangat meriah dari penonton. Kami membungkukkan badan bersama – sama dan Keita menggenggam tangan ku dengan erat menuju ke belakang panggung. Yang aku tahu, aku dan Keita siap berjuang lebih keras untuk mimpi kami. Yang aku tidak tahu, kami akan berjuang dengan jalan yang berbeda.
◦♫♥♪◦
Aku menghampiri musisi jalanan yang juga tengah tertegun menatapku itu. Semenjak hari perpisahan itu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku pikir ia sudah dikirim ke Eropa oleh ayahnya. Ia bahkan tidak menepati janji nya untuk mengajak ku hanami ke Ueno Park. Aku kembali hilang arah, hanya balet yang membuat ku tetap bertahan. Tapi, rasanya timpang menari tanpa iringan musik darinya. Walaupun begitu, aku sudah berhasil masuk ke Swan Ballet Dance Company, salah satu kelompok balet terkenal di Jepang. Dan pementasan ku rutin setiap 2 minggu sekali.
“Jadi disini kau bersembunyi selama ini? Aku pikir kau sudah menjadi pengecut yang membuang mimpi mu sendiri.” Sulit menahan emosi ku. Entah marah, peduli, bahagia, atau sedih. Aku tidak mengerti ucapan ku cocoknya mendeskripsikan emosi apa. Satu hal yang aku tahu. Hidup ku kembali utuh. Bukannya membalas ucapanku, alih – alih Keita malah memelukku.
“Ayah mengusir ku keluar. Aku sadar aku bukan siapa – siapa tanpa nya. Aku mencoba memulai nya dari awal lagi. Aku ingin membeli piano dengan hasil kerja ku sendiri. Makanya beberapa bulan ini aku bernyanyi di perempatan jalan di distrik ini agar bisa menabung. Nana – chan, aku sangat merindukanmu.” Ujar Keita sambil masih memelukku.
“Aku juga sangat merindukan mu dan musikmu. Bisakah kau memainkan musik kesukaan ku?” segera saja Keita melepaskan pelukannya dan memainkan musik First Arabesque dengan harmonikanya. Beberapa orang kembali memperhatikan kami. Aku ingin merasakan hidup yang sesungguhnya lagi. Aku melepas sepatuku. Hanya dengan beralaskan kaus kaki, aku mulai menari mengikuti harmoni musik yang diciptakan Keita dan harmonikanya. Beberapa orang yang lewat menjatuhkan uang mereka didepan kami. Aku senang sekali. Tidak, bukan karena uang itu. Tapi karena kebahagiaan telah menjalari setiap sendi ku lagi.
Tak lama, ada sebuah mobil yang berhenti dipinggir jalan dekat kami. Seorang laki – laki paruh baya turun dan menghampiri kami. Keita berhenti memainkan alat musiknya, aku pun berhenti menari.
“Keita, kami sangat merindukan mu. Kembali lah ke rumah, nak. Hidupkan lah rumah kita dengan musikmu.” Ujar laki – laki itu dengan sangat mengejutkan. Jadi dia adalah ayahnya Keita.
Otou-san, arigatou gozaimasu. Arigatou ne otou – san (ayah, terima kasih. Terima kasih banyak ya, yah)!” ujar Keita sambil menghambur ke pelukan ayahnya. Kedua ayah dan anak itu larut dalam kerinduan mereka. Aku mengusap air mata ku terharu.
“Kami tunggu kau di rumah. Cepat kembali lah. Ibu mu sangat merindukanmu.” Ujar ayah Keita lagi sambil melepaskan pelukannya.
Hai, otou-san (iya, ayah)” jawab Keita mantap. Setelah itu ayah Keita pergi meninggalkan kami. Keita pun sesaat menatapku. Ada begitu banyak cerita yang ku tangkap dari sinar matanya. Satu hal yang aku tahu pasti, Keita telah merengkuh kebahagiannya lagi, begitu juga dengan ku.
Suara harmonika kembali terdengar. First Arabesque kembali mengisi distrik Shinjuku yang ramai ini. Aku kembali menggerakkan badan ku. Aku dan Keita tahu, kami dapat merengkuh dunia dengan mimpi dan cinta yang telah menyebar di setiap aliran darah dalam tubuh kami. Keita, kau dan musikmu akan selalu menjadi bagian dalam hidupku, selamanya. Dan Arabesque adalah satu hal yang menyatukan kita. Tarian ku, musik mu, dan mimpi kita.
◦♫♥♪◦

"Berjuanglah untuk segala hal yang ingin kau raih dalam hidup ini. Karena mimpi bukanlah suatu hal yang mustahil untuk Tuhan Yang Maha Agung"

Arabesque Chapter 2



Takeda sensei meminta ku untuk membawakan buku tugas teman – teman sekelas ku ke mejanya di ruang guru. Aku menuruni tangga dengan hati – hati. Sulit untuk melihat anak – anak tangga tersebut karena terhalang oleh buku yang bertumpuk – tumpuk ini. Tinggal beberapa anak tangga lagi yang harus ku lalui ketika ku rasakan sesuatu yang licin di bawah sepatuku. Mungkin lantai anak tangga ini basah. Aku sulit mengendalikan tubuhku, dan akhirnya aku merasakan tubuhku terjerembab ke depan. Sesaat, aku berpikir akan menabrak lantai yang keras, namun dugaanku salah. Aku jatuh tepat diatas sesuatu yang... empuk?
“Aawwww.” Terdengar erangan keras dibawahku. Aku yang masih dalam keadaan shocked pun segera bangkit. Saat aku berdiri, aku melihat buku tugas teman – teman ku berserakan di lantai, beberapa anak yang berada di koridor menatapku aneh, dan... seorang laki – laki terlentang di lantai. Oh, tidak! Laki – laki ini adalah orang yang sama dengan yang ku temui di aula pementasan kemarin.
Gomen, gomen (maaf, maaf).” Hanya kata itu yang bisa ku ucapkan sambil mengulurkan tanganku ke arah laki – laki itu. Laki – laki itu menatapku dengan pandangan sinis lalu menepis tanganku. Ia pun berdiri dengan usaha sendiri. Tiba – tiba Takeda sensei muncul di hadapanku.
“Kalian baik – baik saja?”
Aku mengangguk. “Sensei (guru), maaf aku menjatuhkan buku – bukunya.” Kataku sambil membungkukkan badan.
“Tidak apa – apa. Dan kalau begitu, Kiyomizu pergilah bersama Ishikawa ke ruang kesehatan.”
Hai, sensei (iya, guru).” Kata laki – laki yang di panggil Kiyomizu oleh Takeda sensei itu. Laki – laki itu pun beranjak pergi.
“Kawamoto, tolong bereskan buku ini dan bawa ke meja saya.” Ujar Takeda sensei lagi kepada seorang laki – laki yang tengah memperhatikan ke arah kami. Laki – laki itu pun mulai membereskan buku yang berserakan, sementara aku berlari untuk mengikuti Kiyomizu ke ruang kesehatan.
Kiyomizu pun berhenti di depan sebuah ruangan dan masuk ke dalamnya. Ini bukan ruang kesehatan, tapi ini adalah aula pementasan. Aku sedikit ragu, lalu kuputuskan untuk masuk agar aku bisa meminta maaf lagi kepada Kiyomizu. Kali ini aku lihat Kiyomizu duduk di kursi penonton, tidak di kursi piano seperti saat pertama kali aku melihatnya. Aku pun duduk di sampingnya.
“Kiyomizu – kun (panggilan untuk laki – laki yang lebih muda, atau yang sudah akrab), gomen ne (Kiyomizu, maaf ya).” Kataku memulai pembicaraan.
“Aku adalah senpai (kakak kelas) mu. Aku di kelas 3 A.”
Ee? Gomen ne Kiyomizu senpai (hah? maaf ya kakak Kiyomizu).” Aku baru tahu bahwa dia adalah senpai ku.
“Ah, terdengar lebih aneh. Tidak perlu memanggilku dengan senpai. Aku Keita Kiyomizu, panggil saja aku Keita – kun.” Aku mengangguk – angguk menanggapi perkatannya. Sejenak tidak ada yang berbicara, ruangan yang besar ini menjadi bertambah hening.
“Kau tidak bermain piano lagi?” aku berbasa – basi membuka pembicaraan. Tapi aku tidak mendengar jawaban dari Keita. Aku menatapnya sejenak. Wajahnya menegang. Tangannya pun mencengkeram pegangan kursi dengan erat. Aku tidak tahu apa yang membuat sikap nya berubah seperti itu. Sebelumnya ia baik – baik saja.
“Keita – kun,” panggilku. Keita seakan baru tersadar. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, ia terlihat sedikit lebih santai sekarang.
“Aku tidak akan bermain musik lagi.” Jawabnya terlihat murung.
“Kenapa?” Aku kaget mendengar jawabannya.
“Sejak kecil aku sudah belajar musik klasik. Namun 2 tahun yang lalu ayahku menyuruhku untuk berhenti mempelajari musik klasik, padahal ia tahu aku ingin sekali menjadi pianis terkenal. Ia bilang kalau musik tidak akan membantu dalam bisnis keluarga kami. Kemudian ia menyuruhku untuk fokus mempelajari bisnis. Tadinya ia sempat memaksaku untuk pindah ke sekolah bisnis di Eropa, tapi aku menolak. Dan akhirnya aku berjanji kalau aku tidak akan bermain musik lagi, setelah itu ayah ku baru berhenti memaksaku.” Aku sempat tertegun mendengar penuturannya. Orang yang beberapa saat lalu menepis tangan ku dibawah tangga dan memandangku dengan tatapan sinis ini ternyata punya kehidupan yang cukup... menyentuh ku rasa.
“Sebuah mimpi dan harapan tidak akan terhenti hanya karena seseorang memaksa kita untuk menghentikannya. Dan aku yakin kau masih memegang mimpi menjadi pianis itu dengan erat, walau kau tidak yakin dengan apa yang kau pertahankan itu. Menurutku, kau harus tetap percaya pada mimpi itu dan membuktikan pada ayah mu mengenai kemampuan mu itu. Ayah mu pasti akan tergugah karena keyakinan mu akan mimpi mu itu. Dan bukan tidak mungkin ayah mu akan mengizinkan kau melanjutkan mimpi menjadi pianis mu itu lagi.”
“Aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh memaksakan keinginan ku sendiri. Aku... aku harus membalas budi kepada keluarga ku.” Jawab Keita tetap murung.
“Keita, tidak ada orang tua yang mengharapkan balasan dari anaknya.”
“Tapi aku berbeda! Aku bukan anak kandung mereka!” Deg! Satu lagi fakta kehidupan Keita yang membuat ku bersimpati padanya.
“Mereka mengangkat ku sejak aku masih kecil. Mereka menghidupiku dengan kehidupan yang sangat layak. Mereka menyekolahkan ku, memenuhi semua kebutuhan ku, dan mereka lah yang memperkenalkan aku dengan musik klasik. Aku harus tahu diri! Setidaknya aku harus membalas kebaikan mereka. Itu lah mengapa aku memilih menyerah dengan musik klasik ku.” Ujar Keita lagi.
“Walaupun mereka bukan orang tua kandung mu, tapi aku yakin mereka sangat menyayangi mu dan ingin melihat kau bahagia. Tidak ada orang tua yang ingin menyusahkan anaknya Kei..” ku lihat Keita menunduk. Aku mendekatkan tangan ku untuk menyentuh bahunya, namun aku segera menariknya kembali.
Tiba – tiba Keita mengangkat wajahnya dengan cepat. Bibirnya menyunggingkan senyum. Lalu ia berlari ke arah piano di tengah panggung dan segera saja memainkan jari nya di atas tuts – tuts piano tersebut.
“Kau tahu musik apa ini?” tanya nya masih sambil memainkan piano nya dengan riang. Aku mendekat dan menatapnya heran. Sebenarnya apa yang ada dipikiran laki – laki ini?
Symphony no. 5 karya Beethoven.” Jawabku enteng.
“Bagaimana kau tahu?”
“Siapa pun yang mendengarnya pasti akan tahu musik yang terkenal itu Kei.” Ujar ku tersenyum.
“Kau benar... Ishikawa?” Keita sedikit ragu menyebut nama ku. Aku baru sadar bahwa sejak tadi aku belum memperkenalkan nama ku dengan baik padanya.
“Aku Nana Ishikawa.”
“Kau benar, Nana. Aku harus percaya pada mimpi ku, dan akan ku buktikan pada ayahku kalau aku mampu. Aku akan berjuang untuk menjadi pianis terkenal. Dan aku akan selalu menyebut nama ayah ku di setiap konserku, aku janji akan menjadi kebanggaannya. Setidaknya aku bisa membalas sedikit budi ku pada keluarga ku. Bukankah begitu?” celoteh Keita riang. Ternyata anak ini sangat menyenangkan juga. Dia telah berhasil menemukan titik terang dari masalahnya.
“Kau benar.” Jawab ku singkat.
“Ayo duduk disini. Kau harus menebak musik apa yang ku mainkan.” Aku pun duduk di sampingnya. Keita mulai memainkan piano di hadapannya lagi. Aku dapat dengan mudah mengenali musik itu.
First Arabesque karya Claude Debussy, musik ini merupakan musik klasik kesukaanku .”
Sou desu (jadi begitu).” Keita berhenti memainkan piano nya, ia terlihat berpikir sejenak. Tiba – tiba ia tersenyum senang seperti baru mendapatkan ide.
“Lagu kali ini pasti tidak akan bisa kau tebak.” Ujarnya sangat optimis. Aku tidak mau kalah darinya. Aku mendengarkan dengan baik setiap nada yang di hasilkan piano didepan ku ini. Otakku terus berputar mengingat musik ini. Aku pun berhasil mengingat nama musik ini, tapi bukan hanya itu saja. ‘Ingatan’ tentang lagu ini pun kembali memasuki pikiranku. Jantungku berdegup kencang, napasku memburu. Segera saja aku menjatuhkan tanganku diatas tuts piano didepan ku untuk mengacaukan permainan Keita. Lebih tepatnya adalah untuk menghentikan permainan musiknya.
“Nana – chan, doushite (Nana, kenapa)?” tanya Keita. Mungkin ia aneh melihat tingkah laku ku. Aku hanya menggeleng.
“Nana – chan, wajahmu pucat. Apa kau sakit?”
“Tolong jangan mainkan musik itu, Kei.”
“Memangnya kenapa?” Aku menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaannya. Tiba – tiba Keita kembali memainkan musik yang sama,
“Katakan padaku ada apa dengan musik ini!” Aku tidak menjawab, sebagai gantinya aku hanya menggeleng dengan kuat sambil menutup telinga ku dengan tangan ku. Aku memohon agar ia tidak memainkan musik itu lagi tapi Keita tidak menghiraukan ku, ia masih memainkan musik itu dengan piano didepan kami. Tangisku pun akhirnya pecah, tubuhku merosot ke lantai. Melihatku terduduk di lantai, baru lah Keita menghentikan permainannya dan ikut duduk bersama ku di lantai. Wajahnya menunjukkan penyesalan.
“Toccata and Fugue in D minor  karya Johann Sebastian Bach.” Ujar ku sambil sedikit terisak menyebutkan nama dari musik itu. Keita terdiam.
Dulu ibu ku adalah ballerina (penari balet wanita). Aku mungkin juga menurunkan bakat menari itu, makanya aku sudah mahir menari balet meski aku belum lama memasuki sekolah balet. Aku juga selalu menghadiri setiap pementasan ibuku, dan hal itu lah yang membuat ku sangat akrab dengan musik klasik.
Namun suatu hari di pementasannya, entah apa yang sebenarnya terjadi, ibu ku gagal melakukan gerakan Fouttes en Tournant (gerakan berputar ke kiri sebanyak 32 kali dengan kaki kanan menjinjit di ujung jari, sementara kaki kiri diletakkan di lutut). Karena kegagalannya itu, ia mengalami cedera pada kakinya yang menyebabkan ia tidak bisa menari balet lagi. Setelah itu, ia membuang semua hal yang berkaitan dengan balet. Padahal aku tahu bahwa balet adalah separuh hidupnya.
Aku mengerti kesedihan yang di rasakan ibu ku. Dan akhirnya aku juga memutuskan untuk berhenti menari balet. Aku seakan mengalami trauma dari kejadian yang dialami ibu ku. Aku takut mengalami hal yang sama dengannya. Selain itu, aku juga tidak ingin membuat ibu ku teringat dengan balet jika aku terus belajar menari balet.
Oh iya musik yang barusan kau mainkan adalah musik pengiring saat ibu ku gagal melakukan gerakan Fouttes en Tournant. Makanya aku tidak terlalu suka dengan lagu itu.” Aku menjelaskan panjang lebar kepada Keita.
“Kei, mengapa takdir sekejam ini terhadapku? Kini ayah dan ibu ku sudah tidak ada, mimpi dan harapan ku pun musnah. Aku memang suka bernyanyi, tapi mimpi ku yang sesungguhnya adalah menjadi ballerina seperti ibu ku.” Aku kembali terisak dan menutup wajahku dengan kedua belah tanganku. Ku rasakan tangan Keita mengusap – usap rambut ku pelan.
“Sepertinya tadi ada seseorang yang mengajari ku arti mimpi, dan menyuruh ku untuk mempertahankan mimpi itu.” Aku memandang Keita sejenak.
“Kita berbeda. Mimpi ku bukan sesuatu yang dipaksa untuk berhenti oleh orang lain. Ini seperti musnah dari dalam hati ku. Berbeda dengan mu yang masih dengan erat memegang mimpi itu, aku sudah melepaskan nya sejak lama Kei.”
“Sama saja, Nana. Mimpi mu juga sesuatu yang dipaksa untuk berhenti. Tapi bukan oleh seseorang, melainkan oleh sesuatu juga. Yaitu rasa trauma mu! Kau tidak harus berjuang melawan seseorang yang nyata seperti aku, kau hanya perlu berjuang melawan trauma itu. Hanya itu, Nana!” kata – kata Keita membuat ku tersentak. Apakah aku mampu melawan rasa trauma yang sudah lama menghantui ku?
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Asal kau bersungguh – sungguh, kau pasti bisa mematahkan trauma itu. Lagi pula, trauma tidak akan hilang jika hanya dihindari. Trauma itu justru harus dihadapi dengan berani.” Aku berusaha mencerna kata – kata Keita. Aku membenarkan kata – kata Keita dalam hati. Aku juga ingat beberapa saat yang lalu aku kembali menari karena musiknya yang mampu membuat ku lupa akan trauma itu.
“Ah, aku lelah memperdebatkan hal ini Kei. Bisakah kau mainkan lagi musik kesukaanku?”
“Tentu saja, nona.” Ujar Keita riang. Musik yang dihasilkan piano itu memenuhi seluruh sudut aula pementasan. Musik itu mampu menenangkan pikiran ku yang kacau. Bagaimana bisa sebuah trauma menghadang ku meraih mimpi ku sendiri? ‘Ini hidupku! Ini mimpiku! Aku akan berjuang untuk ini!’ dalam hati aku menguatkan diri sendiri. Musik First Arabesque masih menggema diseluruh penjuru ruangan ini. Aku menutup mataku untuk menikmati musik ini, bibirku menyunggingkan senyum. Dia dan musiknya membuat ku hidup kembali.
◦♫♥♪◦

Arabesque



Aku menenteng tas belanjaanku sambil berjalan santai melalui jalanan yang cukup padat. Kaki ku mulai terasa pegal setelah hampir setengah hari ku habiskan mengelilingi distrik Shinjuku ini untuk membeli beberapa barang kebutuhan balet. Tanpa sengaja mataku menangkap sesuatu di dalam etalase toko yang sedang ku lewati. Aku berhenti sejenak di depan toko yang memajang Point Shoes (sepatu yang khusus di gunakan untuk melakukan gerakan En Pointe atau gerakan menjinjit dengan ujung jari dalam balet) di etalasenya itu.
Melihat sepatu itu, tanpa sadar ingatan 9 bulan yang lalu itu terbuka kembali. Senyum ku mengembang ketika mengingatnya. ‘Ah, sudahlah. Dia tidak akan kembali.’ Ujarku dalam hati. Aku pun melanjutkan perjalanan. Angin berhembus agak kencang karena saat ini adalah awal musim dingin. Aku mempercepat langkah. Tiba – tiba aku mendengar suara harmonika yang mengalun dengan indah. Aku mengedarkan pandangan. Di ujung jalan ini, aku melihat beberapa orang berkerubung sambil bertepuk tangan mengikuti alunan musik. Mungkin mereka sedang mengerumuni musisi jalanan. Apakah musisi jalanan itu yang bermain harmonika?
Aku pun memutuskan untuk menikmati musik itu sejenak. Saat semakin dekat, aku baru menyadari musik yang dimainkan itu bukan musik biasa. Tidak semua musisi jalanan bisa melakukannya. Aku mempertajam pendengaran ku.
“Benar. Ini adalah Eine Kleine Nachtmusik karya Mozart.”  Ujarku tanpa sadar. Rasa penasaran terus mendorong kaki ku untuk melangkah maju ke tengah kerumunan. Di tengah kerumunan itu, aku melihat sang musisi tengah duduk sambil memainkan harmonika. Poni nya jatuh menutupi mata sebelah kanannya. Namun aku bisa melihat mata kirinya yang tidak tertutup poni terpejam menikmati alunan yang ia ciptakan bersama alat musik yang digunakannya.
Dan yang mengejutkannya lagi, bibirnya menyunggingkan senyum. Mungkin ia puas dengan harmoni yang ia ciptakan dan antusiasme orang – orang yang mendengarnya. Tapi bukan itu yang membuat napasku memburu secara tiba – tiba. Senyum itu, aku betul – betul mengenalnya. Senyum yang tak pernah ku lihat sejak 9 bulan yang lalu. Senyum yang sangat ku rindukan...
◦♫♥♪◦
21 bulan yang lalu.
Ohayou, minna-san. Hajimemashite. Watashi wa Nana Ishikawa desu. Dozou yoroshiku (selamat pagi semuanya. Senang bertemu dengan anda. Nama saya Nana Ishikawa. Mohon bimbingannya).” Aku membungkukkan badan di depan teman – teman baruku. Hari ini adalah awal semester di kelas 2. Aku merupakan murid pindahan dari Hokkaido. Aku pindah karena belum lama ini ibu ku meninggal dunia, dan ayah ku sudah jauh mendahuluinya yaitu saat aku berumur 8 tahun. Sementara aku tidak punya satupun saudara kandung. Saat ini aku tinggal bersama paman Ishikawa –adik ayah ku– dan keluarganya di distrik Minato.
“Silahkan duduk, Ishikawa.” Ujar Takeda sensei (guru), wali kelas ku sekaligus guru mata pelajaran bahasa Inggris. Aku pun memilih kursi dibelakang seorang gadis berkaca mata.
“Now open your book page 12.” Ujar Takeda sensei lagi kepada seluruh muridnya dan segera memulai pelajaran.
Ohayou. Watashi wa Aya Fujita desu (selamat pagi. Nama ku Aya Fujita).” Kata gadis berkaca mata itu kepadaku. Aku tersenyum membalas perkenalan namanya.
Hajimemashite. Watashi wa Nana Ishikawa desu (senang bertemu dengan anda. Nama ku Nana Ishikawa).” Setelah itu, Aya kembali menghadap ke depan. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, ke sebuah pohon yang dihiasi bunga – bunga indah. Mungkinkah musim semi kali ini akan menjadi awal baru yang baik untukku? Aku harap begitu.
◦♫♥♪◦
Aku pulang sedikit terlambat. Setelah jam sekolah berakhir, aku segera mendaftar untuk kelas tambahan ku. Aku memilih kelas vokal karena aku suka bernyanyi. Keluarga dari ibu ku memang berdarah seni. Nenek ku adalah seorang yang memiliki banyak bakat seni. Ibu ku menurunkan bakat menarinya, sedangkan beberapa bibiku menurunkan bakat menyanyi nenek. Mungkin aku juga mendapat bakat menyanyi dari nenek.
Mereka yang sama – sama mengambil kelas vokal sudah memiliki kemampuan yang bisa dibilang sangat hebat, aku masih sangat jauh dibandingkan mereka. Untuk itu seusai kelas vokal berakhir, aku memutuskan tetap tinggal untuk berlatih sendiri. Saking asyiknya mengasah suara, aku sampai lupa waktu. Sudah jam 7.30 malam saat aku meninggalkan kelas vokal.
Aku berjalan santai melalui koridor yang masih terang. Lalu samar – samar aku mendengar lantunan musik, aku penasaran dengan musik itu. Siapa yang bermain musik malam – malam begini? Aku pun memutuskan untuk mengikuti suara itu. Dan aku berhenti tepat didepan sebuah pintu. Di atas pintu tersebut terpampang tulisan “Aula Pementasan”. Untuk sesaat aku sempat ragu untuk membuka pintu tersebut. Lalu aku menguatkan hatiku. Tidak ada hantu secerdas itu, sampai bisa memainkan musik yang indah. Jika memang yang bermain musik didalam itu hantu, paling itu hantu Beethoven atau hantu Mozart. Ah, tidak apa – apa. Mungkin aku bisa mendapat tanda tangan mereka. Atau setidaknya meminta mereka mengajarkanku bagaimana cara membaca not balok. Ku buka pintu aula tersebut.
Ditengah panggung, terdapat sebuah piano hitam yang mengilat tertimpa cahaya lampu. Dibelakangnya, ku lihat seorang laki – laki tengah asyik memainkan jari – jarinya diatas tuts hitam putih. Setelah cukup dekat, aku baru mengetahui bahwa matanya tengah terpejam. Pantas saja ia tidak menyadari kehadiranku. Aku naik ke atas panggung agar bisa lebih dekat memerhatikan permainan piano laki – laki itu. Aku kenal musik ini, salah satu musik terkenal karya Mozart.
Ada yang aneh disini. Musik yang dihasilkan piano itu seperti memiliki kekuatan magis. Aku terdorong untuk menggerakkan badan ku mengikuti musik yang mengalun dengan indah. Aku melepas sepatuku. Perlahan – lahan kaki ku bergerak – gerak, kedua tanganku pun mengayun di udara mengikuti irama musik itu. Ku rasakan anggota tubuhku agak sedikit kaku, mungkin karena sudah lama aku tidak menari. Aku melompat – lompat kecil, kemudian kaki kiriku menjinjit dan ku luruskan kaki kananku di udara sementara kedua tanganku terentang. Sudah lama sekali aku tidak melakukan gerakan Arabesque ini. Setelah itu aku kembali melompat – lompat dengan riang. Kesenanganku terhenti ketika tiba – tiba suara piano menjadi tak keruan. Sang pemain menekan ke sepuluh jarinya sekaligus ke atas tuts – tuts piano secara kasar, tak terirama, penuh emosi.
Aku hanya bisa memperhatikan nya dengan heran. Tiba – tiba laki – laki itu berdiri meninggalkan piano nya. Saat itu lah pandangan kami bertemu. Dia tampak kaget melihatku yang berdiri mematung.
“Kenapa kau berhenti? Padahal permainan mu tadi bagus sekali. Eine Kleine Nachtmusik karya Mozart bukan?” aku berceloteh sok akrab.
“Siapa kau?” balasnya bertanya dengan nada sedikit kasar. Pertanyaan macam apa itu?
“Aku Ishikawa. Tadi aku tidak sengaja lewat, lalu aku medengar permainan musik mu.” Jawab ku tidak se-sok akrab sebelumnya.
“Jangan datang kesini lagi.” Kata laki – laki itu sambil menunduk. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas ucapannya, kata – katanya seolah ditujukan untuk diri sendiri.
“Maaf?” tanyaku, berharap ia mengulangi kata – katanya.
“Tidak.” Jawabnya singkat, lalu pergi meninggalkan panggung menuju pintu keluar. Aku hanya bisa menatap punggungnya. Laki – laki aneh macam apa yang menikmati permainannya sendiri lalu dalam sekejap diliputi emosi yang sulit ditafsirkan? Dan laki – laki macam apa yang dengan musiknya mampu membuatku lupa dengan trauma menari yang ku miliki walaupun hanya sekejap?
◦♫♥♪◦